Tampilkan postingan dengan label Kata. Tampilkan semua postingan
Kampus Impian
Kampus Impian
Jika
kuliah sama dengan kerja, dan kerja didapat dari kuliah, maka tidak kuliah sama
dengan pengangguran. Begitulah logika matematika dasar menghitung saat siang, ditemani
sengatan matahari memas-manasi mahasiswa untuk tidur. Bukan sembarangan
perhitungan, karena seperti yang telah kuhitung, surveiku mengatakan bahwa
opini mahasiswa yang mengatakan hal tersebut setidaknya mencapai 30%. Mungkin
dariku hanya applause tanpa dukungan buat mereka. Pada dasarnya kuliah
merupakan suatu jenjang pendidikan berlabel “Maha” yang membentuk kader impian,
dengan tingkat intelektual dan kematangan dalam iptak dan iptek. Namun realita
persaingan untuk merebutkan kecilnya lapangan kerja, membuat kebanyakan orang terasa begitu picik dengan menganggap kuliah
merupakan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan. Meski dasarnya kampus merupakan
salah satu jembatan yang menghubungkan antara “kamu dan impianmu”. Sehingga
dalam proses ini ada baiknya kita menyadari untuk memaksimalkan diri demi membangun
jembatan kokoh nan indah, agar kelak kita dapat melewatinya tanpa rasa khawatir
jatuh saat menggapai impian.
Kali
ini aku beralih kepada surveiku yang lainnya, yaitu mereka yang tidak
mengatakan kampus tempat untuk mendapatkan kerja, atau sebagai tempat mendapat
S1 ataupun D3, bukan juga yang mengatakan kampus sebagai tempat hura-hura,
apalagi sebagai tempat mendapatkan gadis dan menjadi idola. Kali ini berbeda,
dimana aku bertemu mereka yang sudah yakin jika kampus mampu memberikan
kontribusi selama kita mau “berakit-rakit kehulu, berenang kita ketepian,
bersakit-sakit dahulu, bersenang kita kemudian”. Tidak salah dan luar biasa,
sungguh, bagaimana tidak membuaku berdecak kagum, dengan kata yang diplomatis,
serta bukti IP tertinggi, mereka membuat yakin kalau aku belum membangun jembatan
impianku seindah milik mereka.
Tepat
didepan cermin, kali ini aku mencoba menanyakan hal yang kurasa berbeda dari
kata orang, namun akan begitu sama dengan opiniku, karena kuwawancarai diriku
sendiri. Kutangkap setiap kata yang dituturkan oleh objek dari dalam pantulan
cermin. Ia mulai berbicang mengenai pahitnya perjuangan dalam menempuh proses
pendidikan diperkuliahan, kemudian proses dimana ia harus menyesuaikan diri
terhadap lingkungan baru dan bla la bla. Sehingga pada akhirnya kami pada bab
mengenai harapan terhadap kampus agar dapat menjadi sebuah kampus impian.
Tidak
muluk-muluk, pada dasarnya benar saja mahasiswa berjuang keras belajar pada
tahap perkuliahan demi mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu rasanya sangat
ingin agar dapat menikmati bangku perkuliahan
yang dipenuhi oleh orang-orang yang kompeten dan ahli dibidangnya. Pasti
hal itu akan terlihat dari banyaknya alumni yang telah sukses. Sehingga berbagai
instansi akan melirik kampus sebagai produsennya para ahli yang terampil. Dengan
demikian mahasiswa memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan lapangan
kerja. Apalagi jika berhasil menembus ranah internasional, bukan menghayal
untuk mendapatkan beasiswa ataupun bekerja diluar negeri, jika alumni mampu
unjuk gigi dengan prestasi membanggakan, dan juga menjadi tenaga kerja yang
luar biasa. Mimpiku dan sebagian lainnya untuk menjejaki hal itu.
Namun
untuk membentuk kader yang berkualitas, dibutuhkan beberapa hal agar mampu
menigkatkan mutu pendidikan. Hal pertama dalam mewujudkan kampus impianku
ialah, kampus yang dipenuhi oleh tenaga pengajar yang professional, karena
tidak sedikit mahasiswa yang malas berkuliah dikarenakan oleh ketidakkehadiran
dosen pada proses perkuliahan. Bahkan terkadang ketidakhadiran dosen yang
bersangkutan diinformasikan pada saat mahasiswa telah hadir diruang. Bagiku
sebagai suatu hal yang sangat mendasar jika kedisiplinan dan profesionalitas
harus begitu ditekan.
Disamping
menginginkan kampus hijau dan suasana yang nyaman, seperti kebanyakan keluhan
lainnya, fasilitas yang tidak mendukung. Laboratorium, ruang belajar, serta
sarana yang mendukung proses belajar lainnya. Sehingga akan memaksimalkan
proses belajar, dan juga mengikuti sistem belajar dari Negara yang telah maju
dalam dunia pendidikan. Siapa tau kita bisa mengikuti kemajuan dalam dunia
pendidikan yang kita entah berada dimana posisinya, ujarku. Namun disamping itu
juga tidak menyampingkan nilai keislaman yang kurasa wajib diterapkan sebagai
rujukan.
Unit
Kegiatan Mahasiswa, saya yakin, ini yang membuat kampus terasa begitu ramai
dengan berbagai ilmu yang bukan didalam ruangan, dan pengalaman yang belum
didapat sebelumnya. Dengan berbagai macam jenis Unit Kegiatan Mahasiswa yang
mendukung bakat dan minat, menjadikan mahasiswa lebih aktif dalam
mengekspresikan diri. Unit Kegiatan Mahasiswa yang luar biasa, membuat kampus
impianku benar-benar terwujud. Proses mendapatkan teman sehobi dan membangun
relasi dengan berbagai komunitas. Menjadi suatu wadah yang menampung
kreatifitas anak muda dalam melakukan action demi sebuah karya. Dengan demikian
mahasiswa akan lebih berkembang baik dari segi kreatifitas maupun mental. Bagaimana
tidak, Unit Kegiatan Mahasiswa pastinya menggembleng anggotanya untuk dapat
menjadi kader unggulan, yang mampu menjadi senjata untuk membunuh miskinnya
prestasi.
Sambil
melihat kedalam cermin, sambil menelaah impianku terhadap kampusku. Suatu perwujudan
yan mestinya kuiringi dengan tidak hanya menerima, tapi harus kuselingi dengan memberi,
memberikan prestasi kepada kampusku. Yang sederhana dan kupercaya kini perlahan
menuju kearah penggapaian sebagai kampus impianku.
Tag :
Kata,
Ilmu Dan Amal
Tentang Berilmu dan Beramal
Berkata - Ibnu Salam " Siapa yang disebut ilmuan? Jawabnya : " Yaitu, mereka yang melaksanakan ilmunya. Lalu, apa faktor penyebab lenyapnya ilmu dari dada manusia? " Tamak, (yakni) seorang rakus menyalahbgunakan ilmunya, hingga seakan akan ilmunya telah hilang dari dadanya".
Terkadang pernahkah terlintas dbenak kita sahabat, jika kita mungkin tak ubah bagai unta yang membawa beribu buku, dengan jutaan kata yang membentuk kesatuan ilmu. Yang dari tiap bagiannya mungki pernah kita mengetahuinya. Namun, apa alasan dari pernyataan saya jika kita tak ubahnya bagai unta penanggung ilmu tersebut? Maka dalam hal ini sebagai manusia dengan kapasitas ilmu terendah saya sendiripun ragu untu menjawab. Namun apa yang dikatakan menantu Rasulullah SAW, yaitu Ali bin Abi Thalib saya rasa dapat dijadikan acuan dalam menjawab pertanyaan yang saya ajukan. Beliau berkata " Orang pandai jika tidak mengamalkan ilmunya, orang enggan menimba ilmu dari padanya, sebab ilmunya tidak bermanfaat pada dirinya, sekalipun ia telah menghimpun ilmu sebanyak-banyaknya. Pada zaman Bani Israil. ada orang menghimpun ilmu sejumlah 80 peti besar ilmu, lalu Allah memberitahu kepadanya lewat NabiNya: "Seandainya engkau tambah lagi dua kali lipat ilmu yang ada padamu, tetap tidak ada arti bagimu, sepanjang engkau tidak mengamalkan 3 perkara, yaitu: Jangan senang harta (dunia), karena bukanlah tempat permukiman tetap bagi orang mukmin. Jangan berkawan dengan setan, karena ia bukan kawan orang beriman (mukmin). Jangan menyakiti atau mengganggu sesama mukmin, karena hal itu bukan sifat orang mukmin."
Dalam realita kehidupan, ilmu diubah haluannya dari dasar antologi ilmu itu sendiri, dasar yang berbanding terbalik dengan aksiologi ilmu itu sendiri, tidak mampu lagi membawa ilmu itu kepentas ide dasar pembentukan ilmu (kebaikan yang bersifat universal). Akhirnya, perwujutan ilmu menjadi amal yang merusak dunia.
Dalam hal keseharian - Raalita pembodohan menjadi prioritas untuk dijadikan bahan diskusi, banyak orang yang dilebihkan ilmunya oleh yang Maha Kuasa, namun berkuasa sesukanya terhadap ilmunya. Pembodohan, aksi tipu-tipu, dan semacamnya.Efeknya, mereka yang berada dalam situasi yang terbelakang tidak mampu berkembang. Hal ini saya saya maksudkan dalam hal pergaulan, diskriminasi etnis, dan pembodohan publik,
Sungguh jika ilmu itu terlihat, maka pada hakikatnya dapat terlihat dari wujud amal baik yang dipraktikkan oleh tiap insan itu sendiri. Yang bermanfaat bagi dirinya dan semama. Maka jika "padi semakin berisi semakin merunduk" akan indah jika "padi" tersebut mampu menjadi beras, nasi, dan tepung. Sehingga dapat bermanfaat dan dimanfaatkan untuk banyak hal dalam mengenyangkan umat dari rasa laparnya kita terhadap "ilmu" dengan berbagai rasa yang berbeda.
Wallaahu A'lam ~
Wallaahu A'lam ~
Sumber : Tanbihul Ghaafilin
Tag :
Kata,
Senjaku
Senjaku
Birumu...Terkikis putih kelabu
Hamparan ladang putih awan
Menuntun asa untuk memenuhi warna
Pelangi
Yang melengkung oleh bias
Oleh sisa rintik hujan yang kurasa berkah
Jinggamu...
Menggoda burung untuk pulang
Ditengah kerumunan yang sepi manusia yang mencari arah
Yang mentari tidak akan pernah
Pergi dan kembali selamanya
Ia saat itu pergi dengan waktuku bersamanya
Peluh begitu terlihat
Tak beda dengan sisa hujan itu
Yang kemudian mengucur
Mengalir besama duka yang masih tertinggal
Bersama air mata yang mati oleh kehidupan
Biru jingga itu mengambil waktuku
Yang semula kugunakan untuk sekedar lamun
Aku terpaku dalam penjara jiwaku sendiri
Yang membiakkan alasan demi membantah faktaku
Bersamanya turun imajiku
Realita saat itu menepuk pundakku
Menyadarkanku jika telah habis waktuku bersama
Hidup kini mengambil alih
Kuungkapkan semua cita dan cinta yang menghimpit
Bukan gagal
Aku tau
Karena yang kuyakini bukanlah akhir
Saat asa masih memancar seperti senjaku
Ya....
Aku bangkit.
Karenamu, jingga dan biru.
Engkaulah, Senjaku.
Tag :
Kata,
